Minggu, 30 Juni 2013

Kajian Stilistika Puisi “Burung Hitam” karya WS. Rendra


A.    Pendahuluan
Karya sastra merupakan hasil kreasi sastrawan melalui kontemplasi dan refleksi setelah menyaksikan berbagai fenomena kehidupan dalam lingkungan sosialnya. Sebagai sebuah karya seni yang lazim memanfaatkan bahasa sebagai mediumnya maka bahasa sastra memiliki peran sentral. Bahasa sastra menjadi media utama untuk mengekspresikan berbagai gagasan sastrawan. Dengan demikian bahsa sastra sekaligus menjadi alat bagi sastrawan sebagai komunikator untuk menyampaikan gagasan-gagasan kepada pembaca sebagai komunikan atau apresiatornya.
Menurut Abrams (dalam Al-Ma’ruf, 2009: 2) bahasa satra berhubungan dengan fungsi semiotik bahasa sastra. Bahasa merupakan system semiotik tingkat pertama (first order semiotic), sedangkan satra merupakan system semiotik tingkat kedua (second order semiotic).
Bahasa sastra memiliki beberapa ciri antara lain sebagai bahasa emotif dan bersifat konotatif sebagai kebalikan bahasa nonsastra, khususnya bahasa ilmiah yang rasional dan denotatif. Secara rinci, bahasa sastra memiliki sifat antara lain emosional, konotatif, bergaya (berjiwa), dan ketidaklangsungan. Sifat sastra yang lain dapat dilihat dari segi gaya bahasa. Gaya bahasa merupakan bahasa merupakan bahasa yang digunakan secara khusus untuk menimbulkan efek tertentu, khususnya efeks estetis menurut Pradopo (dalam Al-Ma’ruf, 2009: 4).
Sifat bahasa sastra yang lain dapat dilihat dari segi gaya bahasa. Gaya bahasa merupakan gaya bahasa yang digunakan secara khusus untuk menimbulkan efek tertentu, khususnya efek estetis (Pradopo, 1997: 40). Keraf (dalam Al-Ma’ruf, 2009: 138) menegaskan, bahwa gaya bahasa disusun untuk mengungkapkan pikiran secara khas yang memperlihatkan perasaan jiwa dan kepribadian penulis. Menurut Hartoko dan Rahmanto (dalam Al-Ma’ruf, 2009: 138) gaya bahasa itu adalah cara yang khas yang dipakai seorang untuk mengungkapkan diri pribadi.
Genre sastra atau jenis sastra dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu sastra imajinatif dan nonimajinatif. Dalam praktiknya sastra nonimajinatif terdiri atas karya-karya yang berbentuk esei, kritik, biografi, otobiografi, dan sejarah. Yang termasuk sastra imajinatif ialah karya prosa fiksi (cerpen, novelet, novel atau roman), puisi (puisi epik, puisi lirik, dan puisi dramatik), dan drama (drama komedi, drama tragedi, melodrama, dan drama tragikomedi).
Puisi marupakan suatu karya sastra Indonesia yang merupakan penghayatan kehidupan manusia totalitas yang dipantulkan oleh penciptanya dengan segala pribadinya, pikirannya, perasaannya, kemauannya dan lain-lain, Situmorang (1980: 7). Dalam puisi “Burung Hitam” ini dianalisis menggunakan pendekatan semiotik. Pendekatan ini difokuskan pada wacana yang dianalisis tanda-tanda bahasa atau bahasa yang dipilih pengarang untuk maksud-maksud tertentu yang terkandung di dalam puisi tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam makalah ini adalah: (1) Bagaimana style ‘gaya bahasa’ pada puisi “Burung Hitam” karya WS. Rendra. (2) Bagaimana tinjauan semiotika dalam puisi “Burung Hitam” karya WS. Rendra. Adapun tujuan tulisan ini adalah untuk: (1) Mendeskripsikan style ‘gaya bahasa’ pada puisi “Burung Hitam” karya WS. Rendra. (2) Mengungkapkan makna dalam puisi “Burung Hitam” karya WS. Rendra.
Manfaat teoritis ini adalah (1) Kajian stilistika ini memberikan kontribusi  bagi pengembangan linguistik terapan dan studi sastra sekaligus dalam analisis karya sastra. (2) Meletakkan dasar-dasar bagi penelitian stilistika karya sastra yang lain, baik puisi, lirik lagu, maupun teks drama/lakon. Adapun manfaat praktis kajian ini adalah: (1) Memberikan pemahaman kepada pemerhati sastra dalam mengapresiasi karya sastra yang ditinjau dari stilistika. (2) Memberikan alternatif bahan ajar yang relatif masih jarang bagi para pengajar bahasa dalam pembelajaran stilistika.

B.     Kajian Teoritis
Karya sastra yang dibahas dalam penelitian ini adalah puisi dengan fokus gaya bahasa dengan menggunakan teori stilistika. Beberapa konsep teoritis yang berkaitan dengan penelitian ini akan dideskripsikan sebagai berikut.

1.      Style’ Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara pemakian bahasa dalam karangan atau bagaimana seorang pengarang menggunakan sesuatu yang akan dikemukakan, menurut Abrams (dalam Al-Ma’ruf, 2009: 142). Gaya bahasa dalam karya sastra dipakai pengarang sebagai sarana retorika dengan mengeksploitasi dan memanipulasi potensi bahasa. Sarana retorika merupakan sarana kepuitisan yang berupa muslihat pikiran, menurut Altenberd dan Lewis (dalam Al-Ma’ruf, 2009: 7-9).
Gaya bahasa sebagai gejala penggunaan sistem tanda, dapat dipahami bahwa gaya bahasa pada dasarnya memiliki sejumlah matra hubungan. Matra hubungan tersebut dapat dikaitkan dengan dunia proses kreatif pengarang, dunia luar yang dijadikan obyek dan bahan penciptaan, fakta yang terkait dengan aspek internal kebahasaan itu sendiri, dan dunia penafsiran penanggapnya (Aminuddin, 1995: 54).
Sesuai dengan pengertian stilistika sebagai studi tentang cara pengarang dalam menggunakan sistem tanda sejalan dengan gagasan yang ingin disampaikan, dari kompleksitas dan kekayaan unsur pembentuk karya sastra itu yang dijadikan sasaran kajian hanya pada wujud penggunaan system tandanya (Aminuddin, 1995: 46).

2.      Puisi
Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima ‘membuat’ atau poeisis ‘pembuatan’, dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Puisis diartikan “membuat” dan “pembuatan” karena lewat puisi pada dasarnya seorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.
Menurut Riffatere (dalam Al-Ma’ruf, 2009: 4) ketaklangsungan bahasa puisi  disebabkan oleh tiga hal, yakni  penggantian arti (displacing of meaning), penyimpangan arti (distorting of meaning), dan penciptaan arti (creating  of meaning).  Selain itu,  penyair juga menggunakan bahasa yang tidak lazim dalam puisinya. Tujuan penyair memasukkan bahasa yang tidak lazim tersebut untuk memperindah tatanan bahasa puisi dan lebih menekankan nilai kesenian, bahasa tidak lazim biasanya berwujud bahasa figuratif.
Puisi merupakan karya sastra yang dimana karya sastra itu bersifat imajinatif yang banyak menggunakan makna kias dan makna lambang (majas). Pengkajian puisi yang dilakukan untuk menafsirkan sebuah karya sastra nyatanya masih dipandang remeh oleh sebagian kecil manusiawi, padahal bila kita memikirkan kembali bahwa tujuan dilakukannya pengkajian puisi merupakan sebagai suatu upaya untuk mengenal lebih jauh tentang makna yang terkandung dalam puisi itu sendiri. Meskipun demikian, orang tidak dapat memahami puisi secara sepenuhnya tanpa mengetahui dan menyadari bahwa puisi itu karya estetis yang bermakna dan mempunyai arti.

3.      Teori Stilistika
Stilika adalah proses menganalisis karya sastra dengan mengkaji unsur-unsur bahasa sebagai medium karya sastra yang digunakan sastrawan sehingga terlihat bagaimana perlakuan sastrawan terhadap bahasa dalam rangka menuangkan gagasannya (subject matter).
Menurut Abrams (dalam Al-Ma’ruf, 2009: 19) mengemukakan stilistika kesusastraan merupakan metode analisis karya sastra. Stilistika dimaksudkan untuk menggantikan kritik sastra yang subjektif dan impresif dan ilmiah.
Ratna (dalam Al-Ma’ruf, 2009: 10) menyatakan, stilistika merupakan ilmu yang menyelidiki pemakai bahasa dalam karya satra, dengan mempertimbangkan aspek-aspek keindahannya. Menurut Junus (dalam Al-Ma’ruf, 2009: 11), hakikat stilistika adalah studi mengenai pemakaian bahasa dalam karya sastra. Stilistika dipakai sebagai ilmu gabungan, yakni linguistik dan ilmu sastra. Stilistika sebagai ilmu yang mengkaji penggunaan bahasa dalam karya sastra yang berorientasi linguistik atau menggunakan parameter linguistik.

4.      Teori Semiotik
Menurut Pradopo (1995: 119-120) semiotik (semiotika) adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial/masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotik itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti.
Menurut Pradopo (1995: 119) semiotik adalah ilmu tanda-tanda. Tanda mempunyai dua aspek yaitu petanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda adalah bentuk formalnya yang menandai sesuatu yang disebut petanda, sedangkan petanda adalah sesuatu yang ditandai oleh penanda itu yaitu artinya.
Jenis-jenis tanda yang utama ialah ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan yang bersifat alamiah antara penanda dan petandanya. Indeks adalah tanda yang menunjukkan hubungan kausal (sebab-akibat) antara penanda dan petandanya. Sedangkan simbol adalah tanda yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya, hubungannya bersifat arbitrer.

C.     Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Pada hakikatnya penelitian kualitatif menitikberatkan pada analisis isi (content analysis), yaitu penelitian yang mementingkan pengkajian isi dengan tujuan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam objek penelitian yang dijabarkan secara verba. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2005: 8), metode deskriptif merupakan metode penelitian yang dilakukan dengan jalan mengumpulkan data, menyusun, mengklasifikasikan dan menginterpretasikan data. Hal ini sejalan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu dengan mengumpulkan data, mengklasifikasikan data dan menginterpretasikan data. Penelitian ini mengkaji dan mendeskripsikan gaya bahasa yang terdapat dalam puisi “Burung Hitam” karya WS. Rendra.
Data penelitian ini adalah gaya bahasa yang terdapat dalam puisi “Burung Hitam” karya WS. Rendra. Sumber data yaitu teks lirik puisi “Burung Hitam” karya WS. Rendra.


D.    Hasil dan Pembahasan
Kajian stilistika puisi “Burung Hitam” karya WS. Rendra akan dibagi dalam lima aspek yaitu gaya bunyi, gaya kata (diksi), gaya kalimat, bahasa figuratif dan citraan, setelah itu akan dikaji dengan kajian semiotik. Sebelumnya akan dipaparkan puisi “Burung Hitam” karya WS. Rendra.

Burung Hitam

Burung hitam manis dari hatiku
Betapa cekatan dan rindu sepi syahdu
Burung hitam adalah buah pohonan
Burung hitam di dada adalah bebungaan
Ia minum pada kali yang disayang
Ia tidur di daunan bergoyang
Ia bukanlah dari duka meski si burung hitam
Burung hitam adalah cintaku yang terpendam

1.        Gaya Bunyi
Fonem atau gaya bunyi merupakan unsure lingual terkecil dalam satuan bahasa yang dapat menimbulkan dan/atau membedakan arti tertentu. Fonem terbagi menjadi vocal (bunyi hidup seperti a, i, e, o, u) dan konsonan (bunyi mati seperti b, f, g, h, j, l, k dan sebagainya).Rima yang digunakan dalam puisi “Burung Hitam” pada bait pertama secara keseluruhan menggunakan pola aabb. Hal tersebut dibuktikan pada lirik puisi pada bait pertama.

Burung hitam manis dari hatiku,
Betapa cekatan dan rindu sepi syahdu,
Burung hitam adalah buah pohonan,
Burung hitam di dada adalah bebungaan.

Pada bait tersebut puisi “burung hitam” menggunakan akhiran kata yang perpola aabb. Pada baris pertama berakhir dengan kata hatiku, kemudian pada baris kedua berakhir dengan kata syahdu. Pada baris kesatu dan kedua memiliki akhiran yang sama yaitu berakhir dengan bunyi u. Pada baris ketiga berakhir dengan kata pepohonan, kemudian pada baris keempat berakhir dengan kata bebungaan. Pada baris ketiga dan keempat memiliki akhiran yang sama yaitu berakhir dengan bunyi a.  
Dalam puisi “Burung Hitam”, bunyi berperan penting karena bunyi menimbulkan efek dan kesan tertentu. Puisi secara keseluruhan didominasi oleh adanya bunyi /a/ pengarang menggunakan /a/ misalnya seperti.
Ia minum pada kali yang disayang
Ia tidur di daunan bergoyang
Ia bukanlah dari duka meski si burung hitam
Burung hitam adalah cintaku yang terpendam

Pemakaian bunyi /a/ disini sebagai sikap yang sulit diterka, berani, kuat dan bentuk penegasan, misalnya pada puisi “Burung Hitam” Ia minum pada kali yang disayang, Ia tidur di daunan bergoyang, Ia bukanlah dari duka meski si burung hitam, Burung hitam adalah cintaku yang terpendam. Bukan dari lambang kesedihan atau duka yang biasanya orang artikan. Jadi pada intinya sang penyair menempatkan kata atau kalimat kunci di akhir baris puisinya.
 
2.        Gaya Kata (Diksi)
Diksi dapat diartikan sebagai pilihan kata-kata yang dilakukan oleh pengarang guna menciptkan efek makna tertentu.Dalam konteks ini pengertian denotasi dan konotasi tidak boleh diabaikan. Denotasi ialah arti lugas, yang sesuai dengan kamus, sedangkan konotasi adalah arti kias, yang diasosiasikan atau disarankannya. Diksi berarti pemilihan dan penyusunan kata-kata dalam tuturan atau penulisan bisa juga dibilang pilihan leksikal dalam penulisan.
Diksi berguna menghidupkan dan melukiskan gambaran yang jelas sesuai dengan gagasan yang akan disampaiakan, pengarang Puisi “Burung Hitam” banyak memanfatkan kata konotatif disamping kata konkret. Untuk menekakan aspek estetis pengarang mengunakan kata yang diulang dalam puisi yaitu kata “Burung Hitam” Bait. Banyak kata konotatif ataupun abstrak yang muncul dalam puisi ini sebagai berikut: /kalian/.
Selain kata konotatif, dalam puisi ini juga memanfaatkan kata konkret yang memiliki arti denotatif. Pemanfaatan kata konkret juga penting berguna untuk melukiskan sesuatu secara langsung sehingga jelas gambarannya. Dalam keseluruhan lirik lagu kata konkret dilukiskan dengan “cintaku”. Sehingga dalam puisi tersebut objeknya adalah kekasih yang diinginkan ada disampingnya atau merindukan pujangganya.

3.        Gaya Kalimat
Unsur ketiga yang membentuk wujud verbal adalah kalimat, yakni cara pengarang menyusun kalimat-kalimat dalam karyanya. Gaya kalimat ialah penggunaan sautu kalimat untuk memperoleh efek tertentu, misalnya inverse, gaya kalimat tanya, perintah dan elips. Demikian juga dengan karakterisitknya.
Untuk membentuk wujud verbal karya sastra dan menentukan gaya pengarang adalah kalimat, yakni cara pengarang menyusun kalimat-kalimat dalam karyanya. Dalam penyusunan puisi “Burung Hitam” ini pencipta tidak menggunakan pemadatan kalimat, namun pencipta menggunakan bahasa yang ekspresif untuk menimbulkan kesan estetikanya.
Dengan menggunakan kata ganti orang Peratama dan kata ganti orang ketiga yang terlihat dalam keseluruhan tiap barisnya, Penggunaan kata ganti tersebut akan nampak pada analisis berikut ini.


Bait 1
Burung hitam manis dari hatiku
Betapa cekatan dan rindu sepi syahdu 
Burung hitam adalah buah pohonan
Burung hitam di dada adalah bebungaan

Penggantian kata ganti orang pertama yang di garis bawah pada bait 1 menyampaikan makna khusus yaitu menggambarkan Dia gunakan kata hitam sebagai sikap yang sulit diterka, berani, kuat dan bentuk penegasan. Bukan dari lambang kesedihan atau duka yang biasanya orang artikan. Jadi pada intinya sang penyair menempatkan kata atau kalimat kunci di akhir baris puisinya. Burung hitam adalah cintaku yang terpendam. Ini bermaksud sang penyair menggunakan burung hitam sebagai lambang yang mewakili perasaannya tentang rasa jatuh cintanya kepada seseorang. Satu hal yang jarang orang gunakan untuk mewakili perasaan yang sedang jatuh cinta.Sebuah puisi yang sangat menarik.

Bait 2
Ia minum pada kali yang disayang
Ia tidur di daunan bergoyang
Ia bukanlah dari duka meski si burung hitam
Burung hitam adalah cintaku yang terpendam

Sedangkan penggantian kata ganti orang ketiga yang di garis bawah pada bait 2 menyampaikan makna khusus yaitu menunjukan pengarang menginginkan cintanya kembalis disisinya. Semisal ia minum pada kali yang disayang itu menunjukan bahwa cintanya pernah meminum rasa dari manisnya kasih saying darinya.
Dari kajian gaya kalimat di atas dapat dikemukakan bahwa dalam puisi “Burung Hitam” tersebut terlihat adanya penggantian kata ganti orang dengan gaya implicit. Penggantian kata ganti orang tersebut tidak mengganggu hubungan antar kalimat melainkan justru menambah efektifitas kalimat dan menimbulkan efek makna khusus sekaligus mampu mencapai efek estetis.

4.        Bahasa Figuratif (Figuratif Language)
Berguna menghidupkan dan melukiskan gambaran yang jelas sesuai gagasan yang akan di sampaiakan, pencipta puisi “Burung Hitam”  banyak memanfatkan simile, metafora, personifikasi, repetisi.
Simile adalah simile adalah majas yang mengungkapkan ungkapan secara tidak langsung dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, dll. Metafora adalah majas yang mengungkapkan ungkapan secara langsung berupa perbandingan.
Majas Personifikasi adalah Personifikasi adalah majas yang memberikan sifat-sifat manusia pada benda mati. Majas Repetisi adalah Perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.

a)      Metafora
Ialah membandingkan dua hal yang berbeda tetapi tidak menggunakan kata pembanding.  Dalam puisi yang berjudul “Burung Hitam” ini terdapat majas metafora, dalam kutipan sebagai berikut :

Burung hitam adalah cintaku yang terpendam
Di baris ini penyair membandingkan rasa cintanya dengan burung hitam.

Burung hitam adalah buah pohonan
Di baris ini penyair membandingkan burung hitam dengan pepohonan.

Burung hitam di dada adalah bebungaan
Di baris ini sang penyair juga membandingkan burung hitam di dada dengan bebungaan.
b)      Personifikasi
Ialah memperlakukan benda seperti layaknya manusia yang bersifat klise, epigon atau plagiat. Dalam puisi yang berjudul “Burung Hitam” ini terdapat majas personifikasi, dalam kutipan sebagai berikut :

Ia tidur di daunan bergoyang.
Di baris ini penyair membandingkan daun yang bergoyang seperti sifat manusia.

c)      Repetisi
Ialah bentuk perulangan kata yang terdapat dalam puisi’
Dalam puisi yang berjudul “Burung Hitam” ini terdapat repetisi, dalam kutipan sebagai berikut :

Burung hitammanis dari hatiku
Burung hitamadalah buah pohonan
Burung hitam di dada adalah bebungaan
Burung hitam adalah cintaku yang terpendam
Di baris kesatu, ketiga, keempat dan kedelapan penyair mengulang kata burung hitam.

Iaminum pada kali yang disayang
Ia tidur di daunan bergoyang
Ia bukanlah dari duka meski si burung hitam
Di baris kelima, keenam dan ketujuh penyair mengulang kata ia.

5.        Citraan
Setiap gambaran pikiran disebut citra atau imaji (image). Gambaran pikiran itu adalah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai (lukisan) yang dihasilkan oleh penangkapan pembaca terhadap suatu objek yang dapat dilihat oleh mata, saraf penglihatan, dan daerah-daerah otak yang berhubungan (yang bersangkutan).
Citraan atau imaji dalam karya sastra berperan penting untuk menimbulkan pembayangan imajinatif, membentuk gambaran mental, dan dapat membangkitkan pengalaman tertentu pada pembaca. Dalam puisi “Burung Hitam” pencipta memanfaatkan citraan untuk menghidupkan imajinasi pembaca melalui ungkapan yang tidak langsung, sepeti pada bait 2.

Burung hitam manis dari hatiku
Betapa cekatan dan rindu sepi syahdu
Burung hitam adalah buah pohonan
Burung hitam di dada adalah bebungaan

Ia minum pada kali yang disayang
Ia tidur di daunan bergoyang
Ia bukanlah dari duka meski si burung hitam
Burung hitam adalah cintaku yang terpendam

Pencipta memanfaatkan citraan gerakan tergambar pada bait 2 dalam kata “Burung hitam adalah cintaku yang terpendam” untuk melukiskan bahwa Burung hitam di sini adalah bermakna kecintaan sang penyair kepada pujaan hati yang begitu kuat, diselimuti dengan kesetiaan yang bersifat tak bisa diterka dan terkesan misteri atau dirahasiakan.

E.     Kajian Makna Stilistika Puisi ‘Burung Hitam’ Karya WS. Rendra
Makna karya satra merupakan formulasi gagasan-gagasan yang disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Mengacu teori semiotik, karya sastra merupakan sistem komunikasi tanda. Oleh karena itu, papaun yang tercantum dalam karya sastra merupakan tanda yang mengandung makna yang implisit di balik ekspresi bahasa yang eksplisit.
Makna yang terkandung dalam puisi “Burung Hitam” dapat dipaparkan sebagai berikut.

Burung hitam manis dari hatiku
Bermakna :
Burung adalah hewan yang perkasa dan bijaksana, sering disebut binatang yang memiliki sifat setia kepada pasangannya. Hitam adalah bermakna keberanian, ketenangan, kuat, misteri dan memperlihatkan ketegasan. Manis adalah satu hal yang indah dan rupawan, menyenangkan
Sehingga pada baris pertama bermakna ungkapan jiwa sang penyair yang mempunyai perasaan kepada sang pujaan hati di dalam hatinya, dia memiliki keberanian yang kuat dan dengan kesetiaan dia mengungkapkan perasaannya itu sehingga terasa manis ataupun menyenangkan.

Betapa cekatan dan rindu sepi syahdu
Bermakna :
Cekatan adalah pergerakan yang sangat cepat . Rindu sepi syahdu adalah penggambaran suasana merindu kepada pujaan hati saat kesepian melanda sang penyair dan semuanya itu dinikmatinya dengan syahdu Sehingga pada baris ke dua ini bermakna perasaan penyair yang bergolak di jiwanya mengalir begitu cepat dan nada kerinduaan saat ia berada di kesepian. Sang penyair selalu merasa kerinduan yang begitu cepat melanda jiwanya saat tak bertemu sang pujaan hatinya.

Burung hitam di dada adalah bebungaan
Bermakna :
Burung adalah hewan yang perkasa dan bijaksana, sering disebut binatang yang memiliki sifat setia kepada pasangannya. Hitam adalah bermakna keberanian, ketenangan, kuat, misteri dan memperlihatkan ketegasan. Bebungaan adalah salah satu hal yang membuat hati berdebar-debar dan sangat menyenangkan Sehingga pada baris ke tiga ini bermakna sang penyair mengungkapkan tentang perasaan cinta kepada sang pujaan hati yang sangat menggelora di dalam dadanya.

Ia minum pada kali yang disayang
Bermakna :
Minum adalah simbol seseorang yang melepaskan dahaganya karena haus. Kali yang disayang adalah suatu tempat yang diyakini penyair mampu melepaskan rasa dahaga saat merasa sangat kehausan Sehingga pada baris ke empat ini bermakna ketika sang penyair mulai merasakan dahaga akan cinta dari pujaan hatinya itu maka tempat untuk melepaskan dahaganya itu ya seorang pujaannya itu.

Ia tidur di daunan bergoyang
Bermakna :
Tidur di daunan bergoyang adalah melambangkan diri penyair yang tidak sulit tidur karena ada hal yang mengganggu hatinya Sehingga pada baris kelima ini bermakna sang penyair yang tidak bisa tidur karena ada kegundahan dan keresahan hati saat memikirkan pujaan hatinya.

Ia bukanlah dari duka meski si burung hitam
Bermakna :
Si burung hitam bermakna satu ungkapan jiwa sang penyair tentang perasaannya yang memberanikan diri mengagumi pujaan hatinya dengan kesetiaan . Sehingga pada baris ke enam ini bermakna ungkapan jiwa sang penyair yang mengungkapkan perasaannya kepada pujaan hati dengan sifat setia dan menyembunyikan perasaannya tersebut dan meski dilambangkan dengan hitam namun tak mengartikannya dengan kesedihan melainkan keuatan dan ketegasan dari perasaan itu sendiri.

Burung hitam adalah cintaku yang terpendam
Bermakna :
Burung hitam adalah satu ungkapan jiwa sang penyair tentang perasaannya yang memberanikan diri mengagumi pujaan hatinya dengan kesetiaan , Sehingga pada baris terakhir ini bermakna sebuah ungkapan jiwanya yang terpendam dan ia lambangkan dengan burung hitam yang berarti perasaannya kepada sang pujaan hatinya yang begitu menggebunamun tetap kuat tersimpan dalam hati.

F.     Simpulan



Daftar Pustaka

Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2009. Stilistika: Teori, Metode, dan Aplikasi Pengkajian Estetika Bahasa. Surakarta: Cakra Books.
Aminudin. 1995. Stilistika Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.
Moleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna, Nyoman Kuta. 2009. Stilistika Kajian Puitika Bahasa, Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Situmorang. 1980. Puisi dan Metodologi Pengajarannya. Medan: Nusa Indah.